Pejabat dan Orang Sombong Dilarang Lewat Jl Karanggetas

oleh -75 views
mitos-jalan-karanggetas-kota-cirebon
Jl Karanggetas Kota Cirebon yang diyakini memiliki mitos kuat.

JIKA Anda seorang pejabat pemerintahan atau memiliki ilmu kebal tubuh apalagi sombong, Jangan coba-coba lewati ini. Tuah mitos Jl Karanggetas Kota Cirebon ini menjadi Urban Lengend.

Mitos ini, bahkan dihindari Presiden Soeharto. Diceritakan Filolog dan Sejarawan Cirebon, Raden Rafan Safari Hasyim, presiden yang berkuasan 32 tahun tersebut pernah melakukan kunjungan dua kali ke Cirebon.

Kebetulan, kunjungan dilakukan dekat dengan lokasi Jl Karanggetas. Salah satunya ke daerah Pelabuhan Cirebon, untuk meresmikan Kapal Ciremai.

Meskipun lokasinya berdekatan dengan Jl Karanggetas, saat itu rombongan Presiden Soeharto diarahkan untuk naik helikopter menuju area Pelabuhan.

Baca Juga:

Tempat Mistis di Kuningan, Salah Satunya Mungkin Sering Anda Kunjungi

5 Tempat Angker di Cianjur, Nomor 3 Pernah Jadi Tempat Syuting

Mitos ini juga tidak lepas dari sejarah kesaktian seorang pendekar yang luntur karena melintas di kawasan tersebut.

Diceritakan Opan –sapaan akrabnya- sejarah Karanggetas sendiri bermula saat Syekh Magelung seorang musafir yang sakti asal Syiria hendak menguji kemampuan ilmunya ke tanah Cirebon.

Karena konon di seluruh Jazirah Arab, tidak ada yang mampu menandingi kesaktiannya. Syekh Magelung diberitahu oleh gurunya agar menemui Sunan Gunung Jati di Cirebon untuk memotong rambutnya.

Setibanya di Tanah Cirebon, Syekh Magelung singgah di Pelabuhan Singhapura atau Muara Jati di daerah Tangkil sekarang, dan bertemu dengan Syekh Bentong.

Di hadapan Syekh Bentong, mengutarakan maksud kedatangannya ke Cirebon, dan mengaku sebagai orang sakti yang hendak mencari orang yang bisa mencukur rambutnya.

Magelung Sakti lantas mencoba unjuk kemampuan dan kesaktiannya, dengan melemparkan tombak ke atas dan diterima dengan telapak tangannya tanpa terluka.

Melihat Magelung Sakti untuk kebolehannya, Syekh Bentong merasa tertarik untuk melakoni hal yang sama, bahkan lemparan tombak Syekh Bentong lebih tinggi dan lebih kencang.

Saat tombak turun dan mengenai telapak tangannya, tombak tersebut seolah-olah menembus telapak tangan Syekh Bentong.

Namun, saat dilihat lebih dekat oleh Magelung Sakti, telapak tangan Syekh Bentong tidak tergores sedikitpun, dan akhirnya Syekh Magelung mengakui kesaktianya kalah dibanding dengan Syekh Bentong, dan melakukan gerakan sembah sujud karena mengira Syekh Bentong adalah Sunan Gunung Jati.

Syekh Bentong menolak untuk disembah sujud, karena tidak dibenarkan manusia menyembah ke manusia lagi, dan hanya Yang Maha Kuasa yang boleh disembah.

Dia lantas memberitahukan kepada Magelung hendak bertemu dengan Sunan Gunung Jati, mesti menghilangkan keseombongannya dan memerintahkan untuk berjalan kaki ke arah selatan.

Di perjalanan, Magelung Sakti beristirahat di tepian sungai yang sekarang dipercaya sebagai Sungai Sukalila. Di peristirahatannya tersebut, Magelung Sakti didatangi seorang kakek.

Terjadi sebuah dialog yang mengutarakan maksud kedatangan Magelung Sakti. Kakek tersebut lantas mencapit rambut Magelung dengan dua jarinya, dan rambut yang sebelumnya tidak mempan disayat benda tajam itu pun akhirnya putus.

“Dari situlah sejarahnya, makannya dinamakan Karang Getas. Jadi, di tempat ini kalau ada orang sombong tuh jangan lewat ke situ, nanti getas (putus). Karang (batu karang) yang kokoh saja bisa putus,” ungkapnya.

Opan menambahkan, kisah lainnya pada tahun 1677 kali Sukalila merupakan kalah yang sering terjadi banjir rob dari laut.

Pada masa itu, orang-orang sombong yang menaiki pedati dan kereta kuda yang merupakan alat transportasi tercanggih pun, banyak yang terperosok saat melintasi kawasan tersebut.

Budayawan lain mengatakan, pernah suatu ketika salah satu petinggi di Kota Cirebon memerankan tokoh Syekh Magelung dalam sebuah pementasan.

“Sultan Sepuh (almarhum) sampai bilang kepada saya, kok berani-beraninya ngak sowan dulu,” ujar pria yang kerap dipanggil Tamrin.

Setelah pementasan berakhir, tidak berlangsung lama, petinggi yang memerankan tokoh Syekh Magelung tersebut sakit.

“Memang itu kehendak yang maha kuasa, tetapi banyak orang yang akhirnya mengaitkan sakitnya akibat dari peran tersebut,” katanya.

Kawasan Karanggetas yang dipercaya punya nilai sejarah dan mitos yang kuat ini, berada di Jalan Karanggetas saat ini, mulai dari Kali Sukalila ke arah Selatan hingga Perempatan Jalan Pekiringan, atau sebelum masuk ke arah Jalan Pasar Kanoman.

Saat ini, di kawasan tersebut merupakan jalur niaga yang dipenuhi oleh jejeran supermarket, ruko, kios, hingga pedagang kaki lima. Kendati demikian, urban legend kawasan ini masih menjadi ingatan public Kota Cirebon. (*)

Laporan:
AZIS MUHTAROM, Cirebon

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.