Tragedi Kelam Eksekusi Santri, Menjadi Awal Terbentuknya Desa Japara

oleh -1.688 views
Desa-Japara-Peundeuy-Raweuy
Desa Japara yang dulunya bernama Desa Peundeuy Raweuy. Foto: Brd/Radar Cirebon

Pantura XFile – Sebuah tragedi kelam menjadi awal terbentuknya Desa Japara, Kecamatan Japara, Kabupaten Kuningan. Sejarah yang terjadi di abad 17 ini sampai sekarang masih diceritakan turun temurun.

Desa yang bertetanggaan dengan Desa Singkup ini, awalnya bernama Desa Peundeuy Raweuy. Nama pendeuy merupakan pohon petai yang tidak berbuah dan raweuy artinya rindang.

“Kalau kata orang sunda Peundeuy Raweuy adalah pohon peuteuy lalakina (pohon petai laki-laki) karena tidak berbuah,” ujar M Thamrin, Kuwu Japara kepada Pantura XFile, Selasa (2/3/2021).

Pria yang menjabat sebagai kepala desa tiga periode tersebut tidak memungkiri bahwa ada tragedi kelam yang menjadi cikal bakal desa yang dipimpinnya.

Baca Juga!

Ternyata RS Uka-Uka Dulunya Adalah Puskesmas

Ada Apa Orang Kuningan dengan Warung Bubur dan Mi Rebus?

Kisaran abad ke-17, Desa Peundeuy Raweuy dan desa lain yang ada di Kecamatan Jalaksana sudah memeluk Agama Islam dan berada di bawah kekuasaan Kesultanan Cirebon.

Sudah menjadi kewajiban pada masa itu, setiap kuwu melaksanakan tugur (piket) di Kasepuhan Cirebon, yang lamanya tiga bulan dalam setiap tahun.

Demikian pula Kuwu Desa Peundeuy Raweuy, mendapat giliran untuk melaksanakan kewajiban piket di Keraton Kasepuhan Cirebon.

Pada saat kuwu akan berangkat, datanglah seorang laki-laki pengembara yang berasal dari Jepara, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah.

Pria yang diketahui seorang santri tersebut datang ke Desa Peundeuy Raweuy bermaksud bermalam, usai dirinya belajar mengaji dari daerah Ciamis.

Melalui musyawarah dengan para tokoh masyarakat, diputuskanlah santri tersebut untuk bermalam di rumah kuwu, sekalian untuk menjaga keluarga kuwu selama tugas piket di Cirebon.

Selama tiga bulan bertugas, Kuwu Peundeuy Raweuy kembali ke desanya, dan sesampainya di rumah, kuwu terkejut melihat istrinya yang sudah berbadan dua.

“Pada saat mau berangkat ke Cirebon, Kuwu Peundeuy Raweuy tidak menyadari kalau istrinya sedang hamil,” terang M Thamrin.

Tidak mengetahui istrinya sedang hamil saat berangkat piket, membuat kuwu menuduh santri tersebut telah berbuat yang tidak senonoh terhadap istrinya.

Tuduhan kuwu yang merupakan sebuah aib, tidak bisa diterima oleh santri karena memang santri tidak merasa berbuat seperti yang dituduhkan kuwu.

Karena merasa difitnah oleh kuwu, untuk membuktikan kebenaran, santri tersebut rela dieksekusi dengan cara dipotong lehernya di hadapan warga.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *