Terungkap, Legenda Nyi Ratna Herang Seorang Putri, Bukan Penari Ronggeng

oleh -215 views
Desa-Ciherang-Legenda-Nyi-Ratna_herang
Gapura selamat datang di Desa Ciherang. Foto: Brd/Radar Cirebon

Buku yang mengupas tentang Nyi Ratna Herang memang sudah hilang. Tetapi ceritanya masih membekas diingatan H Abung.

H Abung pun kembali bercerita. Pria yang berumur 80 tahun ini, mencoba mengingat kembali sejarah yang pernah dibacanya.

Nyi Ratna Herang adalah anak bungsu dari Raja Pajajaran di Bogor, dan selama hidupnya selalu dipinggit. H Abung kembali memulai cerita

Dirinya memiliki kakak perempuan yang sudah bersuami, dan hidup di lingkungan kerajaan.

Hingga suatu ketika, kakak iparnya melihat Nyi Ratna Herang sedang berada di sebuah halaman taman.

Kakak ipar yang tidak pernah tahu keberadaan Nyi Ratna, terkejut dengan parasnya yang cantik.

Timbul rasa penasaran, lalu bertanya kepada istrinya, dijawab bahwa perempuan tersebut adalah adiknya.

“Maklum jaman dulu, kalau lihat perempuan cantik pasti ingin memiliki,” ujar H Abung menirukan cerita dari buku.

Ternyata keinginannya untuk memperistri perempuan tadi, mendapat persetujuan dari istrinya yang tidak lain adalah kakak kandung Nyi Ratna sendiri.

Setelah itu, diutarakanlah keinginan tersebut kepada Nyi Herang sambil memperkenal diri.

“Saya adalah suami dari kakak kamu,” ujar H Abung sambil mencoba merapihkan kerah baju.

Ternyata, Nyi Ratna sudah tahu siapa pria yang menghampirinya, tetapi terkejut dengan maksud perkenalan tersebut.

Keinginan untuk memperistri Nyi Ratna, ternyata ditolak. Nyi Ratna merasa tidak enak hati kalau harus menyakiti kakaknya.

Terus didesak agar bisa dijadikan istri, Nyi Ratna lalu pergi meninggalkan kerajaan, tetapi kakak iparnya terus mengikuti.

“Tidak diterangkan punya ilmu apa, tetapi Nyi Ratna diceritakan bisa terbang,” kata H Abung.

Dalam pelariannya, Nyi Ratna Herang berhenti di sebuah tempat yang sudah ada penghuninya.

Masyarakat yang melihat kedatangan sosok perempuan cantik tersebut merasa aneh dan terkagum-kagum.

“Dalam bahasa sunda Giur, atau kagum, sehingga disebutlah tempat tersebut Cigugur,” ujar H Abung.

Diceritakan H Abung, untuk menyisir rambut Nyi Ratna dibutuhkan batangan bambu untuk mengatur rambutnya.

Kehadiran kakak ipar yang terus membuntuti, menyebabkan Nyi Ratna kembali kabur ke arah timur dari Cigugur.

Hingga akhirnya Nyi Ratna melewati sebuah tempat yang merupakan tegalan, dan dirinya membuat tulisan dengan sebuah ranting di tanah tegalan tersebut.

“Sampai akhirnya, tempat tersebut dinamai Desa Panulisan,” tutur H Abung.

Kakak ipar yang terus mengikutinya, membuat Nyi Herang kembali kabur ke arah Timur lagi.

Akhirnya sampai di suatu tempat, dan penduduk sekitar merasa terpesona dengan sosok Nyi Ratna.

“Mereka sangat mengagung-agungkan sosok Nyi Herang, sehingga tempat tersebut dikenal dengan Luragung,” beber H Abung.

Merasa terus dibuntuti, Nyi Ratna kembali melarikan diri dan sekarang lari ke sebelah Selatan lalu berbelok ke sebelah Barat.

Di akhir pelarian, Nyi Ratna menemukan sebuah situ dengan air yang herang (sangat jernih), dirinya lalu memutuskan untuk duduk di pinggir situ.

Sedang duduk menikmati air, ternyata kakak ipar muncul lagi. Lalu Nyi Ratna Herang menceburkan diri ke situ yang berair jernih tersebut.

Si kakak ipar pun mendekat ke bekas tempat duduk Nyi Ratna sambil menunggu kemunculan adik iparnya dari air.

Lama ditunggu, ternyata Nyi Ratna tidak muncul juga dari dalam air. Kakak ipar pun putus asa dan kembali ke Kerajaan Pajajaran.

“Air situ tersebut mendadak hilang lalu munculah makam Nyi Herang, maka dikenal lah Desa Ciherang,” kata H Abung.

Makam yang posisinya di pinggir Sungai Cigede tersebut hingga kini kondisinya terkesan apa adanya.

“Sudah pernah dicoba, tetapi pemiliknya seperti menolak untuk dilakukan perbaikan,” pungkas H Abung. (brd)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.