Terungkap, Legenda Nyi Ratna Herang Seorang Putri, Bukan Penari Ronggeng

oleh -216 views
Desa-Ciherang-Legenda-Nyi-Ratna_herang
Gapura selamat datang di Desa Ciherang. Foto: Brd/Radar Cirebon

Pantura XFile – Desa Ciherang di Kecamatan Kadugede, Kabupaten Kuningan memiliki legenda Nyi Ratna Herang. Tetapi legenda yang bertebaran ternyata memiliki banyak versi.

Penulis pun merasa penasaran dengan kehebohan legenda tersebut. Dengan ulasan yang pernah dibaca sebelumnya, berangkat menuju Desa Ciherang.

Entah kenapa, tulisan yang pertama kali dibaca menunjukkan kalau legenda tersebut ada di Desa Parakan, Kecamatan Maleber Kabupaten Kuningan.

Tanpa pikir panjang, Desa Parakan yang berada di wilayah Kuningan Timur disambangi. Benar saja, warga sekitar tidak mengetahui adanya makam Nyi Ratna Herang.

Penasaran dengan keterangan warga, Rumah Kepala Desa (Kades) Parakan pun akhirnya dicari untuk diminta keterangan, sayang tidak ada di rumah.

Istri Kades yang kebetulan ada di rumah memahami kebingunan penulis. Bergegas dirinya menghubungi kades lewat telepon selular.

“Tidak ada kuburan Nyi Ratna Herang di Parakan,” ujar Kades di ujung telepon.

Perjalanan 48.6 Km yang ditempuh dari Cirebon menuju Desa Parakan ternyata sia-sia. Tidak ada data yang menunjukkan kalau Nyi Ratna Herang ada di Desa Parakan.

“Mungkin karena sungainya sama,” cetus istri kades yang waktu itu mengenakan jilbab warna coklat.

Baca Juga!

Majalengka-Surabaya Ditempuh dalam Hitungan Menit, Benarkah Bus Hantu Itu Ada?

Nama Bukit Sanghyang Dora Berawal dari Seorang Sanghyang Pembohong

Penulis mencoba melihat ulasan lain lewat telepon pintar, dan ternyata benar. Makam Nyi Ratna Herang ada di bantaran Sungai Cigede.

Secara kebetulan Sungai Cigede juga melintasi Desa Parakan. Jadi masuk akal, salah satu ulasan menyebutkan kalau makam Nyi Ratna Herang ada di Desa Parakan.

Ah dasar. Dengan perasaan kecewa, penulis kembali, besok sepertinya waktu yang tepat. Selama perjalanan bagaimana bisa seseorang menulis sebuah legenda hebat sampai salah lokasi.

Besoknya, dengan semangat baru, berangkat menuju Desa Ciherang, dan sekarang sudah dibekali dengan data-data yang lebih akurat.

Satu jam perjalanan naik turun, menjadi ciri khas menuju kawasan perbukitan, maklum menuju Desa Ciherang harus melintasi kaki Gunung Ciremai.

Matahari nyaris berada di ubun-ubun, tetapi hawa Desa Ciherang masih terasa sejuk, angin pegunungan menghilangkan teriknya matahari.

Kali ini, Kantor Kepala Desa Ciherang menjadi tujuan pertama. Minta izin dan petunjuk kepada siapa harus menggali legenda Nyi Ratna Herang.

Suasana kantor desa ternyata sedang ramai orang, pakaian mereka seperti orang kantoran. Dugaan ternyata benar, mereka perangkat desa yang sedang berada di halaman kantor.

“Maaf, semua perangkat desa akan melakukan swab masal,” ujar Eja. Pria yang menjabat sebagai Sekretaris Desa Ciherang tersebut menyambut kedatangan penulis.

“Lain waktu datang lagi, karena pa kades juga ikut di swab,” tambahnya.

Ternyata kedatangan hari itu, berbarengan dengan akan dilakukannya swab masal semua perangkat. Salah satu perangkat ternyata terkonfirmasi positif covid-19.

Rasa lemas kembali menyelimuti, gagal untuk mencari informasi tentang legenda Nyi Ratna Herang.

Sambil duduk di taman kantor desa, seorang pria paruh baya mendekati, pakai batik dan berkopiah.

“Tolong minta diluruskan, semua tulisan tentang Nyi Ratna Herang salah,” ujar pria tersebut.

Belum habis rasa kecewa, ada tambahan lagi rasa heran. Kenapa harus ada pelurusan tentang legenda tersebut.

“Nyi Ratna itu bukan seorang ronggeng,” protesnya.

Muncul lagi perasaan lain, penasaran. Apa yang barusan diucapkan pria yang diketahui sebagai kesra tersebut jauh dari apa yang selama ini disajikan para penulis.

“Kalau kesini lagi, coba datangi H Abung, beliau lebih paham tentang Nyi Ratna Herang,” ucapnya, sambil menambahkan kalau rumah H Abung berada di Blok Wage.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.