Ternyata RS Uka-Uka Dulunya Adalah Puskesmas

oleh -195 views
Bangunan-Lama-RS-Arjawinangun
Bangunan lama RS Arjawinangun dulunya adalah puskesmas. Foto: Ade Gustiana/Radar Cirebon

Pantura XFile – Mendengar bekas bangunan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Arjawinangun, yang terlintas adalah RS uka-uka, cerita mistis banyak menghiasainya. Tetapi sejarah bangunan tersebut mungkin hanya sedikit yang tahu.

Lama menjadi RS yang sudah tidak difungsikan lagi, bangunan eks RSUD Arjawinangun ternyata memiliki cerita-cerita mistis yang beredar di kalangan masyarakat atau media online.

Salahsatunya adalah cerita tentang satu keluarga dari Indramayu yang membawa salah satu sanak keluarganya melahirkan di bekas RS tersebut.

Dikutip dari laman Brilio.net, disebutkan bahwa ada seorang keluarga yang mengantar anaknya untuk bersalin di rumah sakit ini. Namun mereka malah masuk ke bangunan yang lama.

Baca Juga!

Ada Apa Orang Kuningan dengan Warung Bubur dan Mi Rebus?

Pakar Spiritual: Di Tubuh Ayus Ada Barang-Barang Gaib

Menurut cerita, mereka datang ke RS Arjawinangun lama. Di situ terlihat semua lampu bangunan menyala dan kegiatan rumah sakit berjalan seperti biasanya. Akhirnya mereka memutuskan untuk membawa anaknya ke rumah sakit itu.

Lalu seorang satpam melihat sang ayah yang ke luar dengan membawa termos untuk beli air panas. Satpam ini pun kaget karena bapak ini baru saja ke luar dari rumah sakit yang sudah terbengkalai lama.

Benar saja, ketika menengok ke belakang rumah sakit ini tampilannya sudah berubah menjadi bangunan yang gelap dan menyeramkan. Ketika sang ayah dan satpam masuk untuk melihat anaknya, ternyata anaknya ini sedang terbaring di atas kasur yang kotor.

Cerita melahirkan di bekas RS ini viral setelah diunggah ulang. Beragam reaksi warganet pun macam-macam, ada yang percaya ada juga yang mengira bahwa cerita ini hanya buatan semata.

Terbaru, cerita seorang ojeg online yang menerima pesanan makanan dari bekas RS tersebut. Cerita itu pun menjadi pembicaraan berantai dari mulut ke mulut.

“Ojeg itu datang itu untuk mengantarkan pesanan makanan, tetapi dia kebingunan karena setelah sampai di lokasi, pesanan datang dari bekas RS uka-uka itu,” ujar Iing yang pernah mendengar cerita tersebut.

Bangunan luas yang sudah tidak terawat dihiasi rumput ilalang, tidak salah kalau orang memandang bekas RS Arjawinangun tersebut dengan sebutan rumah sakit uka-uka.

Baca Juga!

Pancer Gunung Ciremai Baru Ditemukan di Desa Sadamantra

Diisukan Memelihara Buto Ijo, Warung Sate di Cirebon Ini Akhirnya Tutup

Di balik semua cerita mistis yang banyak beredar, sejarah perjalanan RSUD Arjawinangun yang lama mungkin hanya sebagian orang saja yang tahu.

Seperti ditulis akun Facebook Cirebonberita, RSUD Arjawinangun adalah rumah sakit milik Pemerintah Daerah Kabupaten Cirebon yang awalnya merupakan sebuah puskesmas yang dibangun tahun 1970.

Puskesmas Arjawinangun terkenal di Kabupaten Cirebon bagian Barat sejak munculnya penyakit diare. Pada jamannya, penyakit diare merupakan penyakit endemis yang berpotensi menimbulkan kejadian luar biasa.

Sembilan tahun kemudian, melalui Surat Keputusan Bupati, Puskesmas Arjawinangun ditetapkan menjadi rumah sakit kelas D dengan tempat tidur sebanyak 45 buah.

Hingga akhirnya, Departemen Kesehatan RI melalui Surat Keputusan Nomor: 1183/Menkes/SK/X/94 tertanggal 23 Oktober 1994 mengakui secara resmi perubahan puskesmas menjadi rumah sakit kelas D.

Tidak butuh lama, satu tahun kemudian tepatnya 30 Januari 1995 Surat Keputusan Menteri Kesehatan RI menetapkan RSUD Arjawinangun naik menjadi Kelas C yang ditindaklanjuti dengan peraturan Daerah Nomor 4 Tahun 1996.

Tahun 2000 untuk pertamakalinya RSUD Arjawinangun mendapat sertifikat Akreditasi RS untuk 5 jenis pelayanan, berlaku 5 tahun. Perda Nomor 64 Tahun 2001 RSUD berubah menjadi Badan RSUD Arjawinangun.

Perubahan yang terus dilakukan di jajaran direksi menuntut pengembangan RS menjadi lebih baik. Melakukan pengembangan RS atau relokasi ke tempat baru menjadi bahan diskusi direksi.

Dengan melakukan beberapa kali studi banding ke RS yang lebih maju, maka tahun 2005 dilakukan relokasi ke tempat yang lebih strategis, tentu dengan persetujuan Pemkab Cirebon sebagai pemilik. (brd)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *