Selain Banyak Dihuni Mahluk Astral, di Sungai Cisanggarung Juga Ada Batu ‘Haid’

oleh -3.758 views
Batu-Sipat-Sungai-Cisanggarung
Proses evakuasi korban tenggelam di Sungai Cisanggarung. Foto: Istimewa

Pantura XFile – Kecelakaan dengan korban tenggelam yang sering terjadi di Sungai Cisanggarung, sering dikaitkan dengan adanya mahluk astral penunggu sungai yang memilik panjang 62,50 Km ini.

Sudah tidak terhitung korban tewas yang tenggelam di sungai yang berhulu di Waduk Darma, Kuningan dan bermuara di Laut Jawa ini.

Korban terakhir adalah seorang bocah berusia 13 tahun, bernama Yusup Febrianto asal Desa Kalibuntu, Kabupaten Cirebon yang tenggelam Senin (7/6) lalu.

Tim SAR Gabungan baru berhasil menemukan Yusup esok harinya sekitar 100 meter dari lokasi awal tenggelam dalam kondisi sudah tidak bernyawa.

Banyaknya korban tenggelam dengan berbagai penyebab, menjadi perbincangan warga tentang banyaknya ‘penghuni’ di sungai tersebut.

Selain penghuni dari sungai itu sendiri, keberadaan mahluk lain dari Bukit Azimut dan Bukti Jamberacak menjadikan Sungai Cisanggarung penuh aura mistis.

Yang paling banyak menjadi perbincangan di kalangan warga adalah sosok ular bertanduk mirip lembu yang sangat jahat.

Menurut cerita rakyat, ular tersebut akan memangsa apa saja yang masuk ke sungai Cisanggarung, baik itu manusia atau hewan.

Baca Juga!

Sikapnya Mencurigakan, Ternyata Sudah Meninggal Sehari Sebelumnya

Dusun Pugag di Kabupaten Kuningan, Satu Keturunan, Dua Keyakinan

Dalam cerita lain, ular bertanduk tersebut berhasil mengalahkan kerajaan siluman buaya putih yang menjadi penguasa Sungai Cisanggarung pada jamannya.

Semua buaya putih yang menghuni Sungai Cisanggarung berhasil dibinasakan oleh ular bertanduk hingga semua keturunannya habis.

Namun, sebelum ular bertanduk membinasakan kerajaan siluman buaya putih, satu butir telur keturunan raja buaya berhasil disembunyikan ke darat.

Hingga seorang kakek berhasil menemukan telur buaya itu, dan merawatnya hingga menetas.

Telur yang merupakan keturunan dari kerajaan buaya putih, akhirnya menetas dan seekor anak buaya hadir menemani si kakek.

Dalam cerita yang beredar, sosok kakek merupakan orang yang dikucilkan oleh warga kampungya karena mengidap penyakit yang sangat menular.

Kehadiran anak buaya, menjadi teman bagi si kakek sehari-hari di aliran sungai yang membelah Provinsi Jawa Barat dan Provinsi Jawa Tengah itu.

Waktu terus berjalan, anak buaya menjadi buaya dewasa, dan tetap dirawat oleh si kakek layaknya seorang cucu.

Hingga suatu saat, si kakek yang memiliki lembu bermaksud memandikan hewan ternaknya itu di Sungai Cisanggarung.

Tanpa disadari, ular bertanduk sedang mengintainya di dalam air, menunggu si kakek lengah dan siap dimangsa.

Namun sebelum niatnya terwujud, ekor ular bertanduk keburu digigit oleh buaya putih yang merupakan peliharaan si kakek.

Pertarungan sengit pun tidak bisa dihindari, dua kekuatan berusaha saling mengalahkan satu sama lain.

Hingga akhirnya, ular bertanduk tersebut kalah oleh kekuatan keturunan kerajaan dan mengakui kehebatan buaya putih.

Dalam kemenangan tersebut, buaya putih memberikan ultimatum kepada ular bertanduk untuk tidak lagi menggangu siapa saja yang ada di Sungai Cisanggarung.

Itulah salah satu cerita rakyat yang sering diperbicangan mengenai penghuni sungai yang memiliki delapan anak sungai ini.

Selain sosok ular dan buaya putih, di Sungai Cisanggarung juga terdapat benda alam yang memiliki keunikan.

Seperti yang diutarakan oleh seorang Youtuber yang memiki kanal Ikhwan4 Channel ini.

Dalam penuturannya, selain mahluk gaib, di sungai yang melintasi tiga kabupaten dan dua provinsi ini, ada sebuah batu yang memiliki keunikan.

Batu tersebut disebut Si Jompong atau Batu Sipat, yang memiliki keunikan bisa berpindah-pindah dari satu lokasi ke lokasi lain.

Selain itu, aliran air sungai tidak berpengaruh kepada batu tersebut, permukaan batu akan selalu terlihat sama meski air sedang tinggi atau sedikit.

“Juga bisa haid, jika sedang haid, aliran sungai menuju Utara akan keruh, tetapi ke arah Selatan tetap jernih,” kata pemilik kanal serasa menyebutkan kejadian tersebut di luar nalar.

Benar tidaknya mahluk gaib yang menjadi penghuni Sungai Cisanggarung, sebagai manusia yang diberkahi akal, setidaknya dituntut untuk selalu waspada jika sedang berada di aliran sungai. (brd)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.