Sejarah Masjid Terbang, Berdiri Tanpa Batu Pondasi

oleh -217 views
Masjid-Keramat-Kaliwulu
Masjid Keramat Kaliwulu. Foto: Brd/Radar Cirebon

Pantura XFile – Cirebon dikenal sebagai kota peradaban Islam yang dibuktikan dengan banyaknya bangunan bersejarah bernuansa Islami. Salah satunya adalah Masjid Keramat Kaliwulu atau Masjid Syekh Abdul Rohman.

Terletak di Desa Kaliwulu, Kecamatan Plered, Kabupaten Cirebon, sejarah awal berdirinya masjid ini memiliki banyak versi.

Masjid Kaliwulu didirikan oleh Syekh Abdul Rohman yang merupakan salah seorang yang berpengaruh dalam pembentukan Desa Kaliwulu.

Banyak julukan yang disematkan kepada Syekh Abdul Rohman, seperti Raden Kaliwulu, Buyut Kaliwulu, atau Cakra Untara.

Hingga kini, masjid yang sudah masuk cagar budaya tersebut banyak yang menyebutnya Masjid Syekh Abdul Rohman, tetapi tidak sedikit yang tahunya sebagai Masjid Keramat Kaliwulu.

Masjid Keramat Kaliwulu awal mulanya tidak dibangun di Kaliwulu, melainkan masjid tersebut dipindahkan dari Baghdad, Timur Tengah.

Baca Juga!

Makam Nyi Mas Bode Bergeser Sendiri, Larangan Menikah dengan Masyarakat Desa Kaliwulu Terhapus

Mitos Putri Cantik Penunggu Setu Patok, Muncul Jika Pria Dalam Keadaan Wangi

Kenapa dari Baghdad? Syekh Syarif Hidayatullah yang berasal dari Mesir memiliki keinginan menyebarkan agama Islam di Pulau Jawa. Keinginan tersebut disokong oleh keluarganya yang berada di Baghdad.

Dikutip dari laman jurnalanakrantau3.wordpress.com, masjid tersebut dipindahkan dari Baghdad menggunakan sapu tangan milik Syekh Abdul Rohman.

“Masjidnya secara gaib pindah dari Baghdad ke Silintang, tidak lama kemudian pindah lagi ke Kauman,” ujar Masari, Juru Kunci Masjid Kaliwulu lewat saluran telepon kepada Pantura XFile.

Silintang merupakan blok yang berada di Desa Wotgali tetangga Desa Kaliwulu yang sekarang letaknya di belakang Ramayana Plumbon.

Sedangkan Kauman adalah nama blok yang ada di Desa Kaliwulu yang sekarang menjadi tempat masjid tersebut berdiri.

Keunikan lain yang terdapat di Masjid Kaliwulu, tidak adanya pondasi sebagai penopang bangunan.

Semua tiang penopang bangunan langsung bertumpu kepada batu hitam tanpa adanya bahan perekat semen atau bahan sejenis lainnya.

Hal tersebut diketahui ketika Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Kaliwulu berembug bersama warga hendak melakukan renovasi lantai masjid.

Keputusan yang diambil waktu itu, lantai masjid harus digali tanahnya untuk dibuang keluar dan diganti dengan lantai granit.

Ketika warga bergotong rotong menggali lantai masjid, mereka dikejutkan dengan kejadian aneh, tidak ditemukannya pondasi sebagai penopang bangunan.

Sejak kejadian itu, warga meyakini bahwa Masjid Kaliwulu merupakan pindahan dari Silintang atau Baghdad.

Hal tersebut diperkuat dengan adanya bangunan pondasi di Blok Silintang yang tidak bertuan dan masih dijaga keberadaanya.

Warga di Blok Silintang tidak ada yang berani mendirikan bangunan di atasnya, mereka meyakini kalau bangunan pondasi tersebut milik Masjid Kaliwulu.

“Saat itu mungkin diangkat bangunannya oleh banyak orang. Sehingga ada istilah masjid terbang,” jelas Limin pengurus DKM Kaliwulu, dikutip dari laman toyacirebononline.com.

Hal unik lainnya dari masjid terbang ini adalah, semua pintu yang dibuat ukurannya pendek, ternyata pendeknya pintu masuk, ada makna yang terkandung.

Ketika jamaah masuk ke dalam masjid harus menundukkan kepala, yang diibaratkan harus merendah di hadapan Tuhan Yang Maha Esa.

Baca Juga!

Tragedi Kelam Eksekusi Santri, Menjadi Awal Terbentuknya Desa Japara

Ternyata RS Uka-Uka Dulunya Adalah Puskesmas

“Sama saja kita harus hormat,” ujar Kadmino, Ngabdi Masjid Kaliwulu.

Selain pintu yang pendek, awalnya tiang masjid ini berjumlah 16 tiang, kemudian ditambah satu Saka (tiang) Bajang, jadi berjumlah 17 tiang.

Sama seperti halnya tiang lainnya, Saka Bajang yang terbuat dari kayu jati ini langsung bertumpu kepada batu hitam, tanpa ada pondasi.

“17 tiang mengandung arti sama dengan jumlah rakaat salat dalam sehari,” tambah Kadmino. Tonton videonya di sini.

Keaslian bangunan masjid yang masih terjaga, dibatasi penggunaanya dalam melakukan salat lima waktu.

Untuk salat sehari-hari, imam berada di pintu masuk utama bangunan asli, sedangkan untuk salat Jumat, posisi imam berada di dalam bangunan utama.

“Semua jamaah boleh berada di dalam bangunan lama, asalkan laki-laki,” terang Kadmino.

Kadmino mengatakan kalau bangunan asli Masjid Kaliwulu juga menyediakan ruangan untuk jamaah perempuan, tetapi sekarang fungsinya dipakai untuk jamaah laki-laki jika Salat Jumat.

“Jamaah perempuan sekarang ditempatkan di bangunan baru,” paparnya.

Masjid Kaliwulu sekarang ini sudah diperluas dengan menambah beberapa bangunan baru, meski bangunan asli tetap dipertahankan.

Di bagian luar masjid terdapat beberapa makam leluhur dan warga Kaliwulu lainnya. Untuk makam Syekh Abdul Rohman ditempatkan dalam sebuah bangunan.

Suasana asri dengan pepohonan besar, ditambah kesejukan udara, menjadikan yang berkunjung lupa kalau sedang berada di wilayah Cirebon yang terkenal dengan udaranya yang panas. (brd)

One thought on “Sejarah Masjid Terbang, Berdiri Tanpa Batu Pondasi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *