Sejarah Berdirinya Israel, Ideologi Zeonis Seorang Jurnalis Menjadi Awal Pembentukan

oleh -6.124 views
israel-palestina-zeonis
Peta Israel. Istimewa

Pada tahun 1891 seorang jurnalis ditugaskan untuk meliput peristiwa politik di Perancis. Jurnalis ini bernama Theodor Herzl.

Setelah meliput berbagai serangan terhadap bangsa Yahudi di Perancis, Herzl mengambil sebuah kesimpulan pahit.

“Bangsa Yahudi akan tetap dianggap sebagai pendatang dan dianaktirikan di manapun mereka berada, tak peduli bahwa mereka sudah terasimilasi menganut agama lokal, bahkan menjadi bagian dari angkatan bersenjata negara itu, bagi dia bangsa Yahudi tetap akan dibenci di mana saja mereka berada,” kutipnya.

Dengan demikian, satu-satunya solusi adalah memiliki negaranya sendiri, Herzl merasa, bahwa imigrasi ke Palestina saja tidak cukup, bahkan berbahaya.

Hal pertama yang harus dilakukan untuk mendirikan Negara Yahudi, adalah memastikan dukungan dari negara Eropa yang besar terlebih dahulu.

Setelah mendapatkan perjanjian resmi untuk membentuk sebuah negara, baru lah imigrasi massal bisa dimulai.

Di sinilah ideologi Herzl bertentangan jauh dengan ajaran Judaisme.

Apabila Judaisme didasarkan dengan agama yang menantikan keselamatan dari Mesias, ideologi Herzl didasarkan dari nasionalisme Yahudi.

Herzl merasa bangsa Yahudi tidak bisa menunggu terlalu lama. Menurutnya, Bangsa Yahudi harus mengambil alih takdir mereka, dan segera membentuk negara di Palestina.

Ideologi Herzl inilah kemudian dinamakan dengan Zionisme. Dan mulailah Herzl menyebarkan ideologinya.

Pada tahun 1897 Herzl mengumpulkan tokoh Yahudi dari seluruh Eropa dalam Kongres Zionis pertama.

Rencana yang ditawarkan Herzl mendapatkan banyak dukungan dan penolakan.

Bagi mereka yang menentang Zionisme, membuat sebuah negara bagi bangsa Yahudi, akan melanggar Kitab Taurat. Di mana hanya Mesias lah yang bisa mempersatukan bangsa pilihan Tuhan.

Namun, Herzl tidak menyerah, dia mulai mendekati beberapa petinggi dari Jerman yang dekat dengan Kekaisaran Ottoman.

Setelah mendapatkan dukungan mereka, barulah Herzl beranjak Kekaisaran Ottoman untuk meminta sepetak tanah tersebut, dia menawarkan bantuan keuangan bagi Kaisar Ottoman.

Namun, kekuasaan Ottoman yang sedang menghadapi banyak tantangan dari Eropa tidak ingin memberikan seinci pun tanah di Palestina.

Sekali lagi, Herzl tidak menyerah.

Akibat dari gagalnya Herzl meyakinkan Kekaisaran Ottoman, ia mulai mendekati musuh dari Kekaisaran Ottoman. Rusia dan Inggris.

Meskipun gagal untuk meyakinkan Rusia, Herzl mendapatkan tawaran wilayah dari Inggris, wilayah tersebut bukan berada di Palestina melainkan Uganda, dan tentu saja tawaran tersebut ditolak.

Lebih Nahasnya lagi, Herzl tidak pernah hidup untuk melihat impiannya tercapai. Pada tahun 1904 Herzl meninggal dunia.

“Pada pada tahun 1914, kelompok Zeonis yang sudah tersebar di manca negara, mengalami sebuah dilema. Kekaisaran Ottoman berserta Jerman, turut berperang melawan kekuatan sekutu. Inggris yang merupakan bagian dari sekutu tersebut, merespon hal ini dengan mendukung nasionalisme Bangsa-Bansa Arab, agar memberontak pada kekeuasaan sentral Kekaisaran Ottoman,” kutipnya lagi.

Kelompok Zeonis, terbagi menjadi dua kubu, bagi orang Yahudi yang sudah menetap di Palestina. Kekaisaran Ottoman adalah harapan terbesar mereka dari ancaman Inggris yang mendukung bangsa-bangsa Arab.

Sementara para Zeonis yang berada di Eropa merasa bahwa ancaman terbesar datang dari Kekaisaran Ottoman. Maka dari itu, Inggris lah yang harus didukung.

Salah satu Yahudi Eropa yang mendukung Inggris, adalah seorang ilmuwan bernama Chaim Weizmann.

Selama perang berkecamuk, Weizmann melobi Menteri Luar Negeri Inggris, Lord Arthur Balfour, untuk memberikan sepetak tanah di Palestina bagi bangsa Yahudi, apabila Inggris berhasil mengalahkan Kekaisaran Ottoman.

“Empat tahun kemudian yakni pada tahun 1918, Inggris terbukti berhasil mengalahkan Kekaisaran Ottoman, dan tidak hanya itu, Dia diberikan mandat oleh liga bangsa-bangsa untuk berkuasa di atas seluruh tanah Palestina, dan dengan kekuasaan ini Inggris mulai mengambil kebijakan yang seakan mengingkari janjinya dengan bangsa Yahudi,” kutipan yang lain.

Pada tahun 1921, Inggris membentuk kerajaan Trans Jordan dan kerajaan ini bukan bagi negara Yahudi.

Tanpa disangka, pengingkaran janji ini memantik nasionalisme ekstrem di bangsa Arab Palestina yang menghendaki kemerdekaan serupa.

Dan juga di sisi Yahudi yang semakin tidak mempercayai Inggris dan membenci Bangsa Arab.

Konflik antar Masyarakat Arab dan Yahudi di Palestina, semakin meningkat hari demi hari, di mana kedua belah pihak saling menyerang satu sama lain.

Dengan meningkatnya kekerasan, seorang ekstrimis bernama Vladimir “Ze’ev Jabotinsky, membentuk sebuah milisi Yahudi bernama Hagana.

Jabotinsky, percaya bahwa negara Yahudi tidak boleh menerima bangsa Arab, karena sudah banyak negara Arab di Timur Tengah.

Dia juga percaya bahwa bangsa Yahudi juga tidak boleh mempercayai bangsa manapun, termasuk Inggris.

Dengan meningkatnya kedatangan Yahudi dari Eropa kekerasan pun turut bertambah.

Inggris Kewalahan, Muak dengan Konflik di Halaman Selanjutnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.