Pancer Gunung Ciremai Baru Ditemukan di Desa Sadamantra

oleh -945 views
Batu-Jangkung-Desa-Sadamantra
Batu Jangkung di Desa Sadamantra diyakini sebagai Pancer Gunung Ciremai. Foto: Ist

Pantura XFile – Desa Sadramantra Kecamatan Jalaksana, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat menemukan bebatuan pra sejarah yang diyakini sebagai pancer Gunung Ciremai.

Kepala Desa Sadamantra, H Rasmad mengatakan, keberadaan bebatuan yang diyakini memiliki sejarah tersebut baru diketahui beberapa tahun ke belakang.

“Kami berserta masyarakat, awalnya menganggap biasa-biasa saja seperti alam, tetapi setelah diselidiki dengan para sesepuh, ternyata bebatuan tersebut memiliki keunikan,” Kata H Rasmad kepada Pantura XFile.

Menurut kepala desa, bebatuan yang ada di Desa Sadamantra diyakini memiliki sejarah atau merupakan gambaran tentang kondisi Gunung Ciremai.

Baca Juga!

Diisukan Memelihara Buto Ijo, Warung Sate di Cirebon Ini Akhirnya Tutup

“Ini baru sebuah anggapan saja, kalau lokasi tersebut sebuah situs, tetapi harus diselediki dulu oleh para ahli supaya anggapan kami benar,” ujarnya.

Tetapi lebih lanjut, pria berpenampilan klimis ini menguatkan kalau bebatuan yang ditemukan di desanya itu ada yang menyerupai kawah gunung tertingi di Jawa Barat itu.

“Batu-batu yang ditemukan ada yang menyerupai kawah Gunung Ciremai, juga ada dua buah batu jangkung yang mirip gapura yang konon katanya disebut pancer (tiang) Gunung Ciremai,” paparnya.

Miniatur Kawah Gunung Ciremai di Desa Sadamantra, Kuningan. Foto: Ist

Menurut H Rasmad, anggapan bebatuan bundar yang mirip kawah Gunung Ciremai, diiyakan oleh beberapa orang yang pernah mendaki dan melihat sendiri kawah tersebut.

Saat ini, bebatuan yang telah ditemukan sekitar tiga tahun ke belakang itu, sudah diberi nama oleh pihak pemerintah desa dan para sesepuh setempat, dengan jumlah keseluruhan ada delapan nama.

Diantaranya, Batu Semar, Batu Jangkung, Miniatur Kawah Ciremai, Pancarasa, Buyut Jatikersa, Raksa Bayu, Raksa Buana, dan Raksa Banyu.

“Penamaannya tidak sembarangan, kami mengambil dari beberapa unsur yang ada, seperti api, angin dan air yang diseuaikan dengan keberadaan batu tersebut,” kata kepala desa berkumis ini.

Baca Juga!

Mahluk Gaib Ditambah Begal, Menghiasi Terowongan Tegalwangi

Lebih lanjut, kepala desa yang gemar rokok isi enam belas batang ini menambahkan, kalau semua bebatuan ada di tanah milik warga. “Semuanya ada di Dusun Manis, dan satu di Dusun Wage,” tambahnya.

Dirinya berharap, asal usul keberadaan bebatuan tersebut bisa segera ditelusuri oleh pihak yang ahli di bidangnya, supaya pihak pemdes bisa mengambil langkah yang tepat.

“Untuk sekarang saya hanya bisa menghimbau kepada masyarakat sekitar untuk menjaga keberadaan bebatuan itu,” katanya.

Meski akses ke bebatuan belum sepenuhnya mulus, tetapi untuk menjangkau ke lokasi masih bisa dilalui oleh kendaraan roda dua atau empat.

“Jaraknya sekitar seratus meter dari jalan desa, meski tidak terjal tapi masih bisa dilalui,” katanya. (brd)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.