Nama Bukit Sanghyang Dora Berawal dari Seorang Sanghyang Pembohong

oleh -82 views
Shanghyang-Dora-di-Desa-Leuwikujang-Limunding
Hamparan perbukitan di Bukit Sanghyang Dora memanjakan mata. Foto: Istimewa

Pantura XFile – Bukit Sanghyang Dora yang terletak di Desa Leuwikujang, Kecamatan Leuwimunding merupakan destinasi wisata andalan Kabupaten Majalengka.

Bukit yang memiliki ketinggian 385 mdpl ini, menjadi tujuan wisata bersama Terasering Panyaweuyan, Bukit Cadas Gantung, dan lain sebagainya.

Salah satu wisata yang bisa dinikmati di Bukit Sanghyang Dora adalah pemandangan alam perbukitan yang masih asri dan sejuk. Selain itu, untuk berkemah juga bisa.

Gugusan perbukitan yang memanjakan mata dan Gunung Ciremai yang berada di dekat lokasi Bukit Sanghyangdora, juga menambah keeksotisan pemandangan di tempat tersebut.

Berdasarkan cerita, ada sebuah perjalanan sejarah yang terjadi pada masa lampau hingga adanya Bukit Sanghyang Dora.

Masa penyebaran Agama Islam di Cirebon terus berkembang. Mbah Kuwu Sangkan yang ingin penyebaran Agama Islam di wilayah Majalengka, mengutus Syekh Magelung Sakti untuk turun ke Majalengka.

Baca Juga!

Sepasang Pengantin Dijadikan Tumbal, Jembatan Cirahong Jadi Tempat ‘Favorit’ Orang Mengakhiri Hidup

Ada Rel di Dasar Air, Kerbau Ditelan Bulat-bulat Penunggu Waduk Darma

Ternyata, di wilayah Majelengka ada seorang sanghyang sakti yang tidak menghendaki kedatangan Syekh Magelung Sakti dan menolak ajaran agama Islam.

Sosok sakti tersebut bernama Sanghyang Gempol, dia merupakan pelarian dari wilayah Sumedang hingga bermukim di Majalengka.

Karena tidak mau menerima ajaran agama Islam, maka Sanghyang Gempol dan Syekh Magelung Sakti bertarung di sebuah bukit.

Dalam pertarungan tersebut, sanghyang mengakui kekalahan dan senjata pusakanya yang berupa keris dibengkokan dan dibuang hingga membentuk sebuah mata air Cibaringkeng.

Cibaringkeng merupakan asal kata bingkeng dari bahasa sunda yaitu bengkok, mengacu kepada keris yang dibengkokan Syekh Magelung Sakti.

Untuk mengakui kehebatan Syekh Magelung Sakti, Sanghyang Gempol mau memeluk agama Islam, tetapi dia minta satu syarat, yakni dibuatkan sebuah tajug atau musola di sebuah bukit.

Bukit tersebut, hingga kini dikenal dengan nama bukit tajug yang dulunya merupakan berdirinya sebuah tajug permintaan sanghyang.

“Tajugnya sudah tidak ada, tetapi bekas bangunan berupa pondasi masih bisa dilihat,” ujar Didi Aswandi, seorang seniman dan sejarawan asal Indramayu.

Setelah dibuatkan sebuah tajug, sanghyang minta satu lagi syarat yakni mata air tempat untuk wudhu.

Baca Juga!

Jangan Asal Sweeping Rumah Makan, Dengar Dulu Penjelasan Buya Yahya

Bosan Takjil Itu-Itu Saja, Cobain Torakor, Tomat Rasa Korma dari Brebes

Bersama Syekh Magelung Sakti, Sanghyang Gempol diajak mencari mata air sampai ke gunung kapur, wilayah Bobos.

“Ketika di gunung kapur, sanghyang kabur masuk ke gunung kapur tersebut, makanya sekarang dikenal dengan nama Desa Bobos,” tambah Didi.

Asal mula Desa Bobos berawal dari ungkapan kata blos, mengacu dari kaburnya sanghyang yang masuk ke dalam gunung.

Merasa dibohongi oleh sanghyang, maka terucaplah Sanghyang Dedora yang artinya sanghyang tukang bohong.

“Dedora yang berarti membohongi,” tukas Didi.

Akibat dedora sanghyang kepada Syekh Magelung Sakti, maka bukit-bukit yang ada di wilayah Majalengka yang merupakan asal sanghyang, dinamai Bukit Sanghyang Dora.

Dari Bobos, sanghyang tersebut terus dikejar dan kabur lagi ke arah Banten hingga masuk ke pedalaman Baduy.

“Jadi masyarakat Baduy ada keturunan dari Sanghyang Dedora,” ujar Didi.

Oleh sebab itu, makanya antara Cirebon dan Banten ada keterikatan saudara dari kejadian tersebut. (brd)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *