Legenda Batu Babi di Tanjakan Beber

oleh -225 views
batu-babi-beber
Tanjakan batu babi/batu banteng di jalur Cirebon-Kuningan. foto: brd/radar cirebon

BILA Anda dari Cirebon hendak ke arah Kuningan, di daerah Beber, Kabupaten Cirebon, Anda akan melintasi sebuah tanjakan panjang dengan pemandangan sebuah batu babi di sebelah kanan jalan.

Sebuah batu persis di tanjakan Beber tersebut memang sekilas mirip kepala babi, meski ada juga yang menyebut mirip banteng, tergantung dari sudut pandang yang melihat.

Banyak mitos yang berkembang diceritakan dari mulut ke mulut. Salah satunya ada yang menyebut bahwa batu tersebut dulunya merupakan seekor babi sakti. Sangat menarik untuk diceritakan sambil menemani minum kopi hangat.

Tanjakan batu babi/batu banteng di jalur Cirebon-Kuningan. foto: brd/radar cirebon

Baca Juga:

Awal Mula Batu Bleneng Bertengger di Bukit Salam

Kejadian Aneh, Pedagang Dapat Pesanan 10 Kopi Jangan Diaduk, 10 Batang Rokok Dibiarkan Terbakar

Sebagian cerita menyebutkan bahwa, batu babi tersebut sudah ada sejak jalur Cirebon-Kuningan itu belum dibangun. Diceritakan bahwa awal mula batu itu memang babi sakti yang bertarung dengan seorang jawara dari Cirebon.

Dalam pertarungan, babi tersebut mati setelah badannya terbelah. Sebelah badannya ditanam di tanah dan sebelah lagi ditaruh di tempat batu itu sekarang.

Dulu jalur tersebut terkenal angker dan konon kerap meminta korban jiwa. Namun siapa nyana jika ternyata jalur tersebut masih menyimpan misteri dan hanya bisa disingkap dengan kaca mata batin.

Cerita lain dituturkan sesepuh desa setempat, bahwa dulunya batu babi tersebut berada di tengah jalan. Karena menghalangi jalur jalan, maka seseorang dengan kesaktian tinggi mencoba memindahkan batu babi tersebut.

Abah Golay, sesepuh desa. foto: brd/radar cirebon

“Dengan kekuatannya, batu tersebut dipecut agar pindah. Maka pindahlah batu tersebut ke pinggir, dan pecut yang dipakai ditancapkan di pinggir batu yang sekarang menjadi pohon besar untuk menemami batu babi tersebut,” ujar pria yang biasa dipanggil Abah Golay ini.

Menurut Abah Golay, bahwa mahluk gaib penunggu batu babi dan pohon besar tersebut sudah pindah seiring perkembangan zaman. “Sekarang penunggunya pindah ke batu yang ada di kebun saya, posisinya ada di belakang batu babi itu,” papar Abah Golay.

Keangkeran dan mitos batu babi sering kali dikaitkan dengan kecelakaan yang kerap terjadi di tanjakan tersebut. Tanjakan yang panjang ditambah jurang tinggi dengan dasar jurang berisi batu-batu besar, menambah aura mistis di tanjakan tersebut kian kental.

Tidak jarang banyak kendaraan besar dengan bobot berat tidak kuat untuk menyelesaikan tanjakan tersebut dan mogok di tengah tanjakan.

“Makanya kalau orang dari luar daerah jika ingin melintas di tanjakan tersebut, setidaknya melemparkan sebatang rokok ke arah batu babi untuk kelancaran dan keselamatan,” ujar sesepuh lain bernama Abah Omo Sutomo.

Abah Omo, Sesepuh desa. foto: brd/radar cirebon

Menurut Abah Omo, penunggu batu babi tidaklah sosok yang jahat, meski sering terjadi kecelakaan dengan korban jiwa dikaitkan dengan keberadaan penunggu batu babi tersebut.

“Sebenarnya penunggunya tidak jahat, tetapi kalau menampakkan diri hanya mengingatkan,” kata Abah Omo.

Diceritakan Abah Omo bahwa suatu ketika, ada seorang pejabat di Desa tersebut usai rapat di daerah Cirebon dan bermaksud pulang ke arah Beber.

Dalam perjalanan, ada sebuah mobil dengan penumpang perempuan menawarkan tumpanganan kepada pejabat tersebut, meski menolak, akhirnya sang pejabat mau diajak masuk mobil.

Selang beberapa saat, sang pejabat ketika tersadar sudah ada di lokasi batu babi tersebut tanpa ada siapa-siapa.

“Si pejabat lari terbirit-birit ke rumahnya, tetapi dari pihak keluarga disarankan untuk kembali ke lokasi batu babi dan mengucapkan terima kasih karena sudah ditolong oleh penunggu batu,” papar Abah Omo.

Abah Omo berpesan bahwa, semua kejadian yang kerap terjadi di tanjakan batu babi tersebut merupakan mitos yang kebetulan suka dikait-kaitkan, mungkin saja sopir tidak memeriksa kondisi kendaraan ketika berangkat, atau ada kelalaian lain sehingga terjadi kecelakaan.

“Kalau kita terlalu percaya kepada hal-hal demikian kita bisa disebut musrik, tetapi kalau sekadar ingin tahu cerita yang bisa dijadikan pengetahuan, tidak ada salahnya,” tutup Abah Omo. (brd)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.