Lautan yang Begitu Luas Masih bisa Terjadi Tabrakan? Ternyata Ini Penyebabnya

oleh -797 views
MV-Barokah-Jaya-Alami-Tabrakan
Bagian Kapal MV Barokah Jaya yang terlihat terbalik. Foto: Basarnas

Pantura XFile – Lautan yang begitu luas, tanpa ada halangan pandangan, masih saja bisa mengakibatkan dua kapal bisa saling bertabrakan.

Minggu (4/4/2021), kapal nelayan MV Barokah Jaya mengalami tabrakan dengan MV Habco Pioneer di perairan utara Balongan, Kabupaten Indramayu,

MV Barokah Jaya yang membawa 32 anak buah kapal (ABK) terbalik. Dari jumlah tersebut, 15 berhasil dievakuasi dan 3 meninggal dunia.

Hingga Selasa (6/4/2021), Tim Basnas gabungan masih mencari keberadaan 14 ABK yang belum diketahui kondisinya.

Baca Juga!

Arwah Gentayangan Menjelma jadi Setan Budeg, Kesadaran Orang Bakal Hilang di Perlintasan Kereta Api

Benarkah Anak Cucu Wali Dilarang Naik Gunung Ciremai?

Lalu apa yang menjadi penyebab kedua kapal bisa bertabrakan di lautan yang begitu luas? Berikut menurut ahli.

Menurut Analisis Ahli Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Trika, penyebab terjadi tabrakan ada beberapa kemungkinan.

Permasalahan pengelolaan lalu lintas laut juga menjadi sangat penting jika menyangkut pelayaran domestik dan internasional.

Biasanya di lokasi tabrakan adalah persilangan antara jalur pelayaran yang padat antara perahu besar dan kapal.

“Bisa jadi kapal merasa jalur internasional terlalu padat kemudian memutuskan untuk keluar jalur malah menabrak kapal lain,” ujar Trika dilansir dari https://www.its.ac.id.

Ada juga human error, kesalahan operator kapal juga kemungkinan terjadi karena kesalahan bahasa dalam berkomunikasi.

“Kendala bahasa sehingga memicu kesalahpahaman komunikasi mungkin saja terjadi. Jangankan beda bahasa, komunikasi radio dalam bahasa Inggris di radio komunikasi juga kerap menimbulkan kecelakaan laut,” kata dia.

Apalagi kecelakaan terjadi pada dinihari, saat nahkoda maupun anak buah kapal kemungkinan dalam posisi kritis kelelahan.

Faktor lain soal equipment error yang terjadi pada piranti komunikasi pelayaran.

Menurut Trika, kemungkinan besar ada kesalahan komumikasi bridge to bridge yang akhirnya menyebabkan kesalahpahaman.

Hal itu kemungkinan besar terjadi karena peralatan sistem komunikasi tidak memenuhi standar peraturan International Convention for the Safety of Life at Sea (SOLAS).

Selain itu, kondisi kapal juga harus mendapatkan sertifikasi laik jalan sebelum berlayar.

Sebut saja kondisi mesin, kondisi lambung kapal, hingga sistem navigasinya harus berada dalam kondisi prima.

Tidak kalah penting adalah seorang nakhoda. Dimana seseorang yang menjadi pemegang kendali terhadap suatu kapal.

Tentu saja seorang nakhoda harus piawai betul dalam mengemudikan kapal yang ia bawa. Salah-salah, yang ada kapalnya malah bisa karam. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.