Hiii…Tugu Perbatasan Cirebon-Kuningan Ternyata Angker Juga

oleh -1.848 views
Tugu-Perbatasan-Cirebon-Kuningan
Tugu Perbatasan Cirebon-Kuningan. foto: brd/radar cirebon

Pantura XFile – Tugu perbatasan Cirebon-Kuningan yang berdiri antara Desa Wanayasa dan Desa Sampora menyimpan banyak cerita mistis.

Bagi pengendara yang memiliki adrenalin tinggi, tidak akan melewati jalan yang melintasi tugu tersebut dengan kecepatan rendah, pasti akan memacu kendaraan hingga kecepatan maksimal.

Tidak dipungkiri memang, jalur lurus dan sedikit menurun jika dari arah Kuningan akan membuat sensasi berkendara dengan power speed akan lebih terasa.

Baca Juga!

Legenda Batu Babi di Tanjakan Beber

Warga sekitar meyakini bahwa di tugu tersebut bermukim berbagi mahluk kasat mata yang menyebabkan seringnya terjadi kecelakaan lalu lintas.

Tidak heran jika kecelakaan yang terjadi di jalur yang menghubungkan Desa Sampora, Kabupaten Kuningan dan Desa Wanayasa Kabupaten Cirebon tersebut berakhir dengan kematian.

“Dua tahun ini, jarang terjadi kecelakaan fatal,” kata Wahid, warga Desa Wanayasa, yang kesehariannya sering nongkrong di ojek pangkalan Wanayasa itu, Kamis (7/1/2021).

Dicky (kiri) dan Wahid bercerita seputar pengalaman mistis mereka. foto: brd/radar cirebon

Tetapi tahun-tahun sebelumnya, dirinya sering menyaksikan kecelakaan yang terjadi di sepanjang jalur Sampora-Wanayasa tersebut.

Menurut beberapa cerita orang sekitar, kecelakaan-kecelakaan yang terjadi imbas dari mahluk halus penunggu tugu perbatasan tersebut.

“Mahluknya menyerupai orang dengan tubuhnya lebih tinggi dan sering pindah tempat ke rumah yang kosong, ada lagi yang melihat kalau sosok tuyul juga sering lalu lalang di tempat itu,” akunya.

Baca Juga!

Awal Mula Batu Bleneng Bertengger di Bukit Salam

Pernah suatu ketika ada kecelakaan di jalur tersebut yang mengakibatkan satu keluarga meninggal dunia akibat tertabrak bus dari Kuningan.

Korban yang konvoi menggunakan lima sepeda motor itu hendak menghadiri undangan hajat kerabatnya yang melewati jalan Desa Wanayasa.

Tapi entah kenapa, bus nyelonong dan menghantam rombongan pengendara sepeda motor yang berada di bahu jalan dan menyeretnya hingga berhenti di bantaran sungai. Padahal jalanan masih terhitung sepi.

Pada saat evakuasi korban, mobil bus tersebut tidak mau terangkat meski alat berat sudah didatangkan tiga unit.

“Saya ikut membantu korban yang saat itu terjepit badan bus dan keadaannya masih hidup, tetapi ketika badan bus mau diangkat, jatuh lagi dan menimpa si korban, terus berulang-ulang hingga tiga kali mungkin,” tutur Wahid.

Dirinya sampai harus rela berlumuran darah korban yang saat itu meninggal di pangkuannya ketika dibawa ke rumah sakit. “Kalau waktu itu bisa cepat terlepas dari jepitan badan bus mungkin masih bisa terselamatkan,” paparnya.

Pada saat kejadian itu, dua orang meninggal di tempat dan satu lagi meninggal dalam perjalanan ke rumah sakit, semuanya masih satu keluarga.

Cerita lain dituturkan Dicky yang juga merupakan pengendara ojek pangkalan Wanayasa, dirinya sempat membawa penumpang yang minta diantar ke daerah Sedong, tetapi penumpang tersebut minta turun di sebuah kebun yang jauh dari pemukiman warga.

Selesai transaksi ongkos ojek, Dicky tidak bisa menemukan jalan pulang hingga dirinya harus putar-putar tidak tentu arah.

“Saat itu sekitar jam tujuh pagi, dan saya bawa penumpang ke arah Sedong, setelah penumpang turun, saya seperti linglung tidak tahu jalan,” kata Dicky.

Hingga akhirnya ada suara adzan, dan dirinya memutuskan mengikuti suara itu hingga bisa menemukan jalan kembali. “Dari pagi saya muter-muter ngak tentu arah hingga dzuhur,” ujarnya sambil menghisap sebatang rokok sambil mengingat kejadian yang pernah dialaminya itu.

Sempat suatu ketika temannya yang merupakan ojek dari desa tetangga membawa penumpang dan melintasi tugu perbatasan, tetapi ketika melintas di kawasan itu, penumpang tersebut menghilang dari jok belakang motor.

“Menurut pengakuan teman saya, penumpangnya seorang perempuan dan minta diantar ke arah Kuningan, tetapi ketika pas melintas di tugu perbatasan, ada keanehan di bobot motor, ketika dia menoleh ke belakang, ternyata penumpang sudah tidak ada,” ujar Dicky sambil memperlihatkan bulu halus di tangannya yang sudah berdiri.

Dari berbagai cerita yang menghiasi keberadaan tugu perbatasan Cirebon-Kuningan tersebut, menurut pengamatan penulis memang menantang untuk memacu kendaraan hingga speed limit. Tak heran jika kecelakaan di jalur tersebut berakhir dengan korban jiwa. (brd)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.