Desa Penghasil Mangga Gedong Gincu Terkesan Horor, Begini Fakta Sesungguhnya

oleh -333 views
desa-mati-majalengka
Suasana Blok Tarikolot, Desa Sidamukti, Kecamatan/Kabupaten Majalengka. Foto: Tangkapan Layar Video

Pantura XFile – Desa Sidamukti merupakan salah satu desa penghasil mangga Gedong Gincu terbesar di Kabupaten Majalengka. Ada ribuan pohon mangga di desa tersebut.

Buah mangga gedong gincu asal Kota Angin, sebutan Kota Majalengka, merupakan varietas buah yang popular di kalangan penggemar buah mangga.

Namun, sebuah video menyebutkan Desa Sidamukti mati. Lokasinya di Blok Tarikolot, Desa Sidamukti. Perkampungan ini benar-benar ditinggalkan penduduknya. Seperti dikutip dari laman radarcirebon.com

Namun Desa Sidamukti tetap ada. Karena hanya penduduk dari blok tersebut yang meninggalkan permukimannya. Di kawasan itu terdapat sekitar 200 rumah yang ditinggalkan.

Baca Juga!

Pencuri Berjimat Kebal Dipukuli, Mungkinkah Ini Isinya?

Kuwu Sidamukti Karwan merasa perlu meluruskan viralnya sebutan desa mati. Sebab, sebutan itu kurang tepat. Karena tidak semua penduduk Desa Sidamukti pindah meninggalkan kampungnya.

Viralnya desa tersebut diawali vlog Bucin Tv yang berkunjung ke desa tersebut. Di lokasi, memang nampak bangunan yang sudah tidak ditempati bertahun-tahun.

“Desa ini kosong tanpa kehidupan dan gw penasaran dengan kondisi siang hari di desa ini. Jangan khawatir, gw juga melakukan penulusan di malam hari sehingga kalian akan melihat perbedaan kondisi siang dan malam di desa ini,” tulis keterangan akun tersebut.

Bucin Tv memang mengunggah dua video yakni pada siang dan malam hari.

Kesan horor memang sangat terasa, terlebih penampakan suasana desa yang tidak lagi dihuni.

Rupanya Desa Sidamukti ditinggalkan oleh warganya tahun 2021. Sebab, kawasan itu sering dilanda pergerakan tanah dan longsor.

Longsor pertama terjadi tahun 2001. Ketika itu, sebagian warga sudah memilih mengungsi. Kemudian pada tahun 2012, pemerintah menyediakan tempat baru bagi penduduk agar meninggalkan desa tersebut.

Kuwu Sidamukti Karwan kembali mengatakan, konten yang menjadi viral di media sosial tentu harus diluruskan. Jangan sampai ini terjadi seperti beberapa tahun sebelumnya keberadaan desa fiktif.

“Padahal desa kami (Sidamukti) masih ada. Jangan sampai nanti ada kesan ‘Desa Mati’. Kita juga lagi menelusuri siapa yang membuat vlog dan sumbernya dari mana. Sehingga sekarang menjadi viral di pemberitaan,” terangnya. (ono)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.