Curug Sigempreng, Curug Sakral di Desa Panongan Lor

oleh -878 views
Curug-Ciwado-Desa-Panongan-Lor-Cirebon
Jalan menuju Balai Desa Panongan Lor. Foto: Brd/Radar Cirebon

Pantura XFile – Desa Panongan Lor masuk jadwal rombongan Asal Gowes Cirebon Katon, Sabtu (23/1/2021). Sebuah desa dengan kontur tanah bergelombang, juga memiliki curug sakral dengan cerita mistis yang menarik untuk dikunjungi.

“Dulu ada orang pintar di desa ini menebang pohon yang ada di sekitar curug, karena penghuninya merasa terganggu, satu persatu orang yang terlibat menebang pohon meninggal,” ujar Saman, warga Desa Panongan Lor.

Itulah percakapan dengan salah satu warga ketika rombongan sepeda kami sampai di Desa Panongan Lor. Tetapi, sebelum itu, perjalanan kami juga ingin diceritakan.

Bersepeda sudah menjadi aktivitas Radar Cirebon Group setiap akhir pekan. Desa Panongan Lor, Kecamatan Sedong menjadi tempat yang akan kami singgahi.

Berangkat sebelum matahari menampakkan diri di upuk timur, rombongan kami bergerak menyusuri jalanan hingga Desa Wanayasa.

Dari desa yang menjadi lokasi berdirinya tugu perbatasan Kabupaten Cirebon-Kabupaten Kuningan, kami menggenjot pedal sepeda lagi menyusuri jalanan pedesaan.

Baca Juga!
Ada ‘Cinta’ Lain di Jembatan Cinta Cihoe Ciledug

Jalanan yang tadinya menanjak, sekarang berubah menjadi menurun. Dari Desa Sindanghayu menuju Panongan Lor nyaris tidak ada tenaga yang terpakai.

Tenaga yang nganggur, berganti konsentrasi pada kedua rem tangan sepeda kami. Jalanan yang menurun terkadang menipu kami dengan lubang jalanan yang tidak terlihat.

Dua jam lebih perjalanan, akhirnya kami sampai di desa yang kecamatannya merupakan hasil pemekaran dari Kecamatan Lemahabang.

Disambut Kuwu Panongan Lor Agus Syamsah, kami terlibat perbincangan sekitar potensi dan rencana pemerintah desa dalam pembangunan.

“Cita-cita saya ingin membangun lapangan bola bertaraf internasional,” ujar kuwu sambil memperlihatkan master plan dalam bentuk video.

Kami semua kagum juga heran, kenapa desa dengan kontur tanah perbukitan ingin membangun lapangan bola dengan taraf internasional.

“Karena dulu, saya ingin mengembangkan Curug Sigempreng, tetapi saya keburu sakit, kata orang sesepuh saya terkena imbas penunggu curug tersebut,” ujar kuwu.

Perbincangan kami yang tadinya ingin membahas potensi desa, teralihkan kepada hal mistis. Diantara kami akhirnya berebut mengajukan pertanyaan kepada kuwu yang menjamu kami dengan jajanan khas pedesaan.

“Karena saya orang luar, makanya saya terkena imbas dari penunggu curug tersebut,” tambah kuwu.

Baca Juga!
Mahluk Seram Penunggu Rumah Merah

Akhirnya kami paham, bahwa curug tersebut tidak boleh diganggu apalagi oleh orang luar. Kuwu Agus menceritakan kisahnya bahwa dirinya seorang pendatang yang mendapatkan istri warga setempat.

“Dulu sempat ada orang yang ingin membuat lokasi galian pasir di curug tersebut, dan kontan, sebelum pekerjaan dimulai, besoknya orang tersebut meninggal,” cerita Agus.

“Penunggunya ular berkepala manusia,” tambah Agus yang membuat kami semua menoleh kepadanya.

Dari pemahamam para sesepuh setempat dan nasihat para orang tua, akhirnya Agus mengurungkan niat membangun wisata di curug tersebut, dan mengalihkan potensi desa ke bidang olah raga.

Rasa penasaran kami kepada hal mistis, akhirnya kami cari sendiri supaya puas, kebetulan diantara rombongan, ada teman kami yang memiliki kebun di desa tersebut.

Kami berangkat lagi dari balai desa menuju lokasi curug, mengingat kami pulang akan bersepeda kembali, kami menggunakan sepeda motor menuju lokasi.

Dalam perjalanan, suasana pegunungan sangat terasa. Hawa sejuk, di kiri kanan banyak kebun ditambah suara binatang khas pegunungan menemani kami dalam berkendara.

Rekan kami yang tadinya mau mengantar ke lokasi curug, membawa kami mampir dulu ke kebunnya.

Selain kebun mangga, ternyata ada juga beberapa batu besar yang kata teman kami ada penunggunya. Kami yang tadinya bergerak liar, mendadak merapatkan diri.

“Teman saya pipis sembarang di batu itu, lalu dia menghilang,” ujar teman kami yang bernama Baing.

Baing menceritakan temannya usai pipis, tidak bisa menemukan jalanan, dan dirinya bersama teman-teman yang lain mencari teman tersebut sampai magrib tidak ketemu.

“Dia kesasar, padahal kami semua mencarinya, untungnya dia berhasil menemukan jalan lagi dan pulang naik kendaraan umum,” cerita Baing.

Pengalaman Baing ternyata tidak sampai disitu. Dia menceritakan lagi kisah kebunnya kepada kami.

Kebun dengan pohon mangga yang menjadi pilihan Baing, suatu ketika pernah disewakan kepada orang lain. Dalam perjalanan, ternyata orang yang nyewa tersebut berbuat curang.

“Pohon jati yang ada di kebun, dia jual, dan tidak bilang kepada saya,” kata Baing, tidak lama kemudian, tambahnya, orang tersebut sakit dan meninggal.

“Makanya orang sekitar tidak berani mengambil mangga yang ada di kebun ini, karena mereka tahu,” paparnya.

Suasa sepi ditambah hebusan angin sejuk membuat kami tidak mau berlama-lama di kebun tersebut. “Saya juga kalau sendirian tidak berani ke sini,” ujar Baing.

Kami akhirnya kembali untuk melanjutkan perjalanan kembali ke Cirebon. Lapangan bola yang akan dibangun dan pengalaman mistis Kuwu Panongan Lor menjadi bahan perbincangan kami di bawah pohon mangga kantor sambil melepas lelah. (brd)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.