Benarkah Anak Cucu Wali Dilarang Naik Gunung Ciremai?

oleh -4.107 views
Gunung-Ciremai-Terlarang-Untuk-Anak-Cucu-Wali
Gunung Ciremai di Kabupaten Kuningan dikabarkan terlarang untuk anak cucu wali. Foto Abdullah/Radar Cirebon

MENURUT beberapa sumber, anak cucu Wali dilarang berdagang, naik Gunung Ciremai dan menunaikan ibadah haji jika belum peduli dengan orang fakir.

Dilansir dari laman historyofcirebon.id, Sunan Gunung Jati memiliki dua putra dari Nyimas Rara Jati. Mereka adalah Pangeran Jaya Kelana dan Pangeran Brata Kelana.

Sunan Gunung Jati selama hidupnya menikah enam kali, tetapi hanya tiga istri yang memberi Sunan Gunung Jati keturunan.

Mereka adalah Nyimas Rara Jati istri ketiga, Nyimas Kawunganten istri keempat dan Nyimas Rara Tepasan istri kelima.

Dari Nyimas Rara Jati, Sunan Gunung Jati memiliki dua putra yang bernama Pangeran Jaya Kelana dan Pangeran Brata Kelana.

Dikisahkan, dua pangeran kakak beradik ini memiliki sifat yang bertolak belakang.

Sang Kakak, Pangeran Jaya Kelana terkenal karena memiliki sifat nakalnya, sedangkan Pangeran Brata Kelana dikenal sangat membanggakan negara.

Pangeran Jaya Kelana memiliki hobi bermain musik sambil menari-nari, susah diatur, juga dikisahkan suka bergaul dengan para breman (Bahasa Belanda, sama dengan preman atau begundal).

Karena saking nakalnya, pangeran ini dibuang ke pulau terpencil di utara Cirebon oleh ayahnya Sunan Gunung Jati.

Kisah Pangeran Jaya Kelana dikisahkan dalam Naskah Mertasinga dari mulai Pupuh LI. 05 sampai dengan Pupuh LII. 12.

Pangeran Jaya Kelana yang merupakan anak tertua Sultan Cirebon, diwajibkan untuk hidup sederhana.

Tetapi kenyataanya, di Cirebon pada jaman itu, banyak saudagar kaya yang anak-anaknya hidup bergemilang harta.

Merasa iri dengan kenyataan tersebut, Pangeran Jaya Kelana memutuskan untuk terjun dalam perdagangan, supaya bisa memiliki banyak harta.

Baca Juga!

Teror Sihir Musnah oleh Lantunan Adzan Pitu

Geger Kuburan Tanahnya Tiba-Tiba Naik, Ada Yang Berpakaian Serba Putih Sedang Berdoa

Tidak butuh lama, Pangeran Jaya Kelana akhirnya bisa memiliki banyak harta dan bisa disebut saudagar.

Akan tetapi, harta yang dimiliki Pangeran Jaya Kelana tidak seberapa dibandingkan para saudagar lain yang memiliki kapal untuk berdagang antar pulau.

Melihat hal itu, Anak Sultan tersebut kembali iri, ingin membuktikan kalau dirinya bisa lebih hebat dari para saudagar yang berdagang ke pulau lain.

Beliau pun memutuskan untuk melakukan hal yang sama, berdagang ke luar Pulau Jawa dengan cara berlayar.

Tapi malang, di tengah laut kapalnya dihantam gelombang. Seluruh dagangannya musnah, meski beliau masih bisa selamat.

Mendapati anaknya yang dianggap terlalu mencintai duniawi, Nyimas Rara Jati sebagai ibunya merasa sedih.

“Anakku janganlah kamu semborno (tamak terhadap dunia), tidak usahlah kamu berdagang sampai ke seberang pulau, hatimu harus selalu bersyukur,” nasihat Nyimas Rara Jati.

Nasihat yang langsung datang dari sosok ibu, dituruti sang pangeran dengan meninggalkan semua usaha dagang yang pernah digelutinya tersebut.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.