Ada Apa Orang Kuningan dengan Warung Bubur dan Mi Rebus?

oleh -4.229 views
Warung-Bubur-mi-rebus-orang-kuningan
Warung Bubur M Toha, di jalan Moh Toha, Kota Cirebon. Foto: Brd/Radar Cirebon

Pantura XFile – Keberadaan warung bubur dan mi rebus di sebuah kota selalu dikaitkan dengan orang Kuningan. Anggapan seperti itu rupanya sudah melekat lama bagi warga Jawa Barat bagian Timur ini.

Lapangan pekerjaan yang minim di Kabupaten Kuningan membuat tingkat urbanisasi hingga saat ini cukup tinggi. Kesempatan untuk memperoleh pekerjaan di daerah asal juga masih sulit.

Melihat pernyataan mantan Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan, daerah yang masyarakatnya memiliki jiwa perantau adalah Kuningan.

“Ketika Saya berdinas di Jakarta, melepas pemudik gratis, yang terbanyak itu warga DKI asal Kuningan Jawa Barat. Luar biasa, kalau dari 100 pemudik, hampir 80 diantaranya dari Kuningan” tuturnya dikutip dari Jabarprov.go.id.

Warga Kuningan itu banyak tersebar di luar Jawa Barat, tidak hanya di DKI tetapi sampai ke luar Jawa.

Baca Juga!

Pakar Spiritual: Di Tubuh Ayus Ada Barang-Barang Gaib

“Di Sumatera, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan dan tempat lainnya banyak orang Kuningan. Mereka kebanyakan buka usaha warung bubur kacang dan ketan item dan mi rebus, alhamdulillah cukup maju mereka” katanya.

Hampir saban tahun, ribuan warga Kota Kuda memilih merantau untuk mencari nafkah di luar daerah. Biasanya mereka berangkat pasca lebaran dan juga kelulusan sekolah.

Untuk masyarakat Kuningan sendiri, menjadi wirausaha di kota-kota besar terutama Jabodetabek selalu menjadi pilihan utama. Tidak heran kalau warung bubur, kopi, atau mi rebus selalu dikaitkan dengan orang Kuningan.

Di Desa Maleber, Kecamatan Maleber, Kabupaten Kuningan, hampir 30 persen warganya memilih keluar daerah untuk mengadu nasib.

“Dari mereka ada yang buka usaha, ada juga yang menjadi karyawan sebuah perusahaan,” ujar Eno Darsono Wijaya SE MSi, Kepala Desa Malaber lewat sambungan telepon, Kamis (25/2/2021).

Menurut Eno, banyak warganya memilih merantau dengan bebagai alasan, yang jelas masalah tingkat kebutuhan hidup yang menjadi alasan.

“Sudah tradisi dari dulu banyak yang merantau, ada juga yang diajak saudaranya, selain itu lapangan kerja di daerah juga minim,” kata Eno.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *