Abaikan Izin Orang Tua, Berakhir Petaka di Gunung Ciremai

oleh -1.605 views
Gunung-Ciremai-Cerita-Mistis
Gunung Ciremai yang merupakan gunung tertinggi di Jawa Barat. Foto: Dok. Radar Cirebon

Pantura XFile – Gunung Ciremai merupakan gunung tertinggi di Jawa Barat, memiliki ketinggian 3.078 mdpl, tidak heran menjadi tempat favorit para pendaki.

Secara administratif, gunung ini berada di wilayah Kabupaten Kuningan dan Kabupaten Majalengka serta termasuk ke dalam kawasan Taman Nasional Gunung Ceremai (TNGC).

Setiap tahun, ratusan pendaki dari berbagai wilayah berusaha ingin menaklukkan puncak gunung yang menjadi legenda di wilayah Jawa Barat itu.

Di balik tingginya puncak gunung yang memikat para pecinta alam, Gunung Ciremai juga memiliki banyak cerita yang menjadi penghias keperkasaannya.

Cerita keindahan alam, udara yang sejuk, satwa liar yang masih bertahan, hingga cerita mistis, banyak dibicarakan oleh orang-orang yang pernah menginjakkan kakinya di Gunung Ciremai.

Lukas Priyatno misalnya, pengalamannya mendaki Gunung Ciremai di tahun 1996 bersama empat temannya, menjadi pengalaman yang tidak mudah dilupakan selama masa hidupnya.

Lukas yang waktu itu masih duduk di sekolah menengah pertama, berangkat mendaki Gunung Ciremai dengan modal nyali anak muda.

Bersama Raya, Hildan, Zaki, dan Fajar (mereka berempat bukan nama sebenarnya) berniat mendaki gunung tanpa ada seorang pun dari mereka yang memiliki pengalaman pernah mendaki gunung.

“Berawal dari ajakan Zaki yang memiliki tenda bapaknya, lalu Gunung Ciremai dipilih atas saran dari Fajar yang kebetulan rumahnya dekat gunung,” ujar Lukas mengawali ceritanya di kanal Lentera Malam.

Baca Juga!

Sumur Emas di Desa Sindanghayu, Diyakini Bisa Mengubah Nasib

Terungkap, Legenda Nyi Ratna Herang Seorang Putri, Bukan Penari Ronggeng

Saat itu suasana Idul Fitri, jadi anak-anak sekolah memiliki waktu liburan cukup panjang, dan ide mendaki gunung akan menjadi pengalaman menarik bagi mereka.

Untuk menambah seru, maka Lukas memutuskan untuk mengajak Hildan dan Raya yang tinggal di Jakarta untuk bergabung.

Gayung bersambut, ternyata ajakan untuk naik gunung, disanggupi dua sahabatnya yang langsung meluncur ke Kabupaten Kuningan.

Hari Kamis, semuanya sudah berkumpul di rumah Fajar, lima orang remaja tanggung ini berbincang-bincang untuk perjalanan menaiki puncak gunung yang belum pernah mereka lakukan.

Sampai pada akhirnya Lukas menanyakan tentang izin dari orang tua masing-masing tentang perjalanan menaiki puncak gunung tersebut.

“Gua sudah izin, tetapi ngak izin untuk muncak,” cerita Lukas waktu bertanya kepada Raya dan Hildan.

Singkat cerita, ternyata semuanya tidak ada yang terus terang kepada orang tua masing-masing perihal perjalanan mereka menaiki puncak gunung.

“Gua sendiri ngak izin siapa-siapa, gua pikir cuma muncak doang kok, kenapa harus izin,” ujar Lukas yang mendapat pertanyaan balik dari teman-temannya.

Akhirnya, perjalanan untuk mendaki gunung disepakati berangkat habis salat subuh dari rumah supaya tidak diketahui orang tua Fajar.

“Kita bawa tenda dua, snack, roti, kopi, rokok sama termos untuk air panas,” tutur Lukas.

Jumat pagi setelah salat subuh, mereka semua berangkat ke menuju Gunung Ciremai dengan pendakian dilakukan lewat jalur Linggarjati.

“Tetapi kita tidak melewati jalur pendakian, melainkan jalur yang biasa dipakai warga,” kata Lukas.

Dari jalur Linggarjati, mereka berlima masuk hutan, naik terus hingga dalam perjalanan menemui sebuah gubuk.

Untuk melepas lelah, semuanya memilih beristiraht di gubuk yang tidak diketahui pemiliknya tersebut.

Ketika sedang beristirahat, Lukas melihat ada pergerakan di semak-semak dan setelah diamati, ternyata seorang orang tua berpenampilan seperti petani muncul ke arah mereka.

“Orangnya mengenakan caping sambil membawa keranjang, tetapi tatapan matanya seperti sedang marah,” aku Lukas menceritakan kejadian waktu itu.

“Kamu jangan macam-macam di gunung ini,” ujar orang tua tadi dalam Bahasa Sunda.

Lukas yang mendapati tatapan mata kurang nyaman dari orang tua tadi, tidak berani menatap balik. Dirinya hanya menundukan kepala sambil melihat rumput liar yang menjadi alas duduknya.

Tidak lama kemudian, orang tua tadi pergi hingga tidak terlihat lagi, Lukas dan teman-temannya meninggalkan gubuk untuk melanjutkan pendakian.

Tatapan mata yang kurang ramah dari orang tua tadi, rupanya mengganggu pikiran Lukas, hingga akhirnya bertanya kepada rekan-rekannya.

Ternyata penglihatan keempat temannya berbeda dengan yang dirasakan Lukas, mereka berempat menilai kalau sikap orang tua tadi sangat baik, ramah dan murah senyum.

“Pokoknya ngucapin selamat lah dan biar hati-hati di jalan,” ujar Lukas.

Keanehan yang dirasakan, berusaha ditepis Lukas dengan tidak mau berlarut-larut untuk memikirkannya dan melanjutkan perjalanan.

Perjalanan untuk mencapai puncak Gunung Ciremai dirasakan mereka berlima sangat lama, hingga akhirnya sampai di sebuah tempat yang terdapat batu besar.

“Kita putuskan untuk break lagi di tempat itu,” ujar Lukas.

Kabut tebal mulai turun menghalangi pandangan, Lukas dan keempat temannya yang tengah beritirahat kembali melihat ada yang bergerak, kali ini di pepohonan.

“Karena berkabut, sosoknya kurang jelas, tetapi seperti bayangan hitam,” ujar Lukas.

Lama kelamaan, bayangan hitam tadi akhinya berada persis di depan Lukas, dan di bawah bayangan tersebut, sosok orang tua yang ditemui di gubuk tadi kembali muncul.

Lukas melihat padangan orang tua tersebut masih seperti pertemuan pertama, marah dan sinis dengan kata-kata yang keluar masih tetap sama.

“Anehnya, pendapat teman gua semua terbalik dengan apa yang gua lihat,” ucap Lukas.

Lukas yang masih belum puas dengan jawaban teman-temanya, melanjutkan pendakian hingga menjelang sore akhirnya mereka sampai di puncak gunung.

Sampai di pucak, keempat temannya sibuk mendirikan tenda, sedangkan Lukas menikmati pemandangan alam, sambil menghisap daun tanaman terlarang yang dibawanya.

Bau asap tanaman terlarang cukup menyengat rupanya tercium oleh Hildan dan Raya, hingga mereka berdua tertarik untuk ikut menikmati.

“Ya udah nih habisin, gua bawanya cuma satu,” cerita Lukas, sambil dirinya bergegas membantu Fajar dan Zaki yang kesulitan mendirikan tenda.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

No More Posts Available.

No more pages to load.