Abaikan Izin Orang Tua, Berakhir Petaka di Gunung Ciremai

oleh -1.607 views
Gunung-Ciremai-Cerita-Mistis
Gunung Ciremai yang merupakan gunung tertinggi di Jawa Barat. Foto: Dok. Radar Cirebon

Menjelang malam, kedua tenda selesai berdiri semuanya masuk kecuali Raya yang masih asyik menikmati hangatnya api di bibir jurang kawah.

Hingga suatu ketika, Raya meminta bantuan kepada Lukas untuk ditemani buang air kecil, tetapi malah Hildan yang menawarkan diri.

Hildan dan Raya akhirnya pergi untuk buang air kecil, sedangkan Lukas tetap berada di dalam tenda untuk rebahan.

Tetapi kepergian mereka untuk sekadar buang air kecil, ternyata memakan waktu cukup lama untuk kembali ke tenda.

“Sekitar satu atau dua jam mereka tidak balik-balik ke tenda,” papar Lukas.

Rasa khawatir terus menyelimuti Lukas, hingga akhirnya meyambangi tenda sebelah yang diisi Fajar sama Zaki.

Lukas akhirnya menceritakan kepergian dua temannya tersebut kepada Fajar dan Zaki, hingga akhirnya berniat untuk mencari keberadaan mereka.

“Jangan malam ini, banyak binatang buas,” ujar Lukas menirukan saran dari Fajar.

Lukas yang tetap khawatir dengan keberadaan dua temannya tersebut, tidak bisa memejamkan mata hingga pagi hari, dan dua temannya tersebut belum juga kembali.

Kondisi puncak gunung sudah disinari matahari, mereka bertiga memutuskan untuk mencari, tetapi keberadaan dua temannya tidak bisa ditemukan.

Akhirnya, mereka sepakat untuk turun gunung dan melaporkan kepada warga tentang dua temannya yang hilang di puncak Gunung Ciremai.

Mereka akhirnya tiba di pos penjagaan yang berada di kaki gunung, lalu menceritakan kronologi hilangnya dua temannya tersebut.

Sore hari, akhirnya dibentuk dua tim SAR yang terdiri dari 10 orang untuk mencari keberadaan Hildan dan Raya.

Pencarian pun dimulai dengan memberangkatkan tim pertama naik puncak gunung, tetapi hasilnya nihil.

Sampai hari ketiga pencarian akhirnya dihentikan, mengingat kondisi medan yang berat karena guyuran hujan dan personil yang sudah mulai kelelahan.

“Disitu gua nangis, sambil memohon kepada tim untuk tetap mencari,” kenang Lukas.

Tim SAR memberikan pengertian kepada Lukas dan dua temannya, bahwa proses pencarian tidak mungkin dilanjutkan.

Akhirnya, Tim SAR meminta nomor telepon orang tua Hildan atau Raya untuk dihubungi dan memberikan kabar.

“Orang tua Hildan ternyata bukan orang sembarangan, dan meminta proses pencarian dilanjutkan lagi,” ujar Lukas.

Di hari Keempat, pencarian pun dilanjutkan kembali dengan bantuan tim SAR dari luar negeri yang didatangkan oleh orang tua Hildan.

Di hari ketujuh, usaha pencarian mulai menemukan titik terang, helikopter yang ikut dilibatkan melihat dua sosok manusia berada di dasar kawah.

Maka dibentuklah tim untuk proses evakuasi kedua jasad manusia yang diindetifikasi merupakan Hildan dan Raya berdasarkan warna jaket.

Dari hasil tim otopsi, disebutkan kalau Hildan sempat bertahan satu hari usai terjatuh ke dasar kawah, namun tewas karena bau belerang menyegat dan kondisi tangan patah.

“Kalau Muhamad Raya, meninggal malam itu juga,” cerita Lukas dari pemaparan tim otopsi.

Akhirnya, kedua jenazah temannya tersebut berhasil dievakasi dan dibersihkan untuk dikebumikan di tempat tinggalnya masing-masing.

Imbas dari kejadian tersebut Lukas, Fajar dan Zaki akhirnya dikeluarkan dari sekolah karena dianggap melakukan kesalahan yang berakibat hilangnya nyawa sesorang.

Lukas akhirnya menyadari, apa pun bentuk kegiatan yang akan dilakukan, izin dari orang tua adalah yang paling utama. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

No More Posts Available.

No more pages to load.